Keluarga Jaksa Penuntut


Saya bercita cita jika kelak memiliki anak, saya tidak ingin jadi seorang jaksa penuntut. Maksudnya? Ya, saya hanya ingin memberikan arahan, pendampingan, dan pengawasan, tanpa perlu mendikte anak saya untuk ini dan itu. Saya ingin memberikan pilihan-pilihan, dimana setiap pilihan ada konsekuensi nya dan harus mereka pikirkan dengan baik untuk kemudian diputuskan sesuai keputusan mereka.

Saya dibesarkan drngan aliran keluarga jaksa penuntut, dimana beberapa hal saya harus melakukan apa yg orang tua saya katakan (inginkan). Padahal saya memiliki keinginan yang berbeda dengan orang tua saya. Alhasil, terkadang berdasar pengalaman saya, walaupun mengerjakan sesuatu atas permintaan dan rasa hormat saya kepada orang tua, tapi ada sedikitnya rasa tidak suka dan senang ketika menjalaninya. Rasanya benar benar hampa.

Pikiran lain yang mengganggu saya adalah memberikan beban secara tidak sengaja kepada anak saya kelak. Contohnya, jika anak saya kelak lahir dari seorang ibu yang cacat, sedikitnya pasti ada beban seperti rasa malu dengan kondisi ibunya, maka sebagai orang tua harus benar – benar menyiasati bagaimana agar kita tidak menjadi beban bagi anak dan meringankan, dengan memberikan pemahaman dan sudut pandang terkait konsep takdir dan sabar n syukur sejak kecil dengan keadaan misalnya. Semua tentunya perlu proses, tidak ada yang instan.

Atau contoh lainnya adalah beban psikologis dan tuntutan terlahir dari keluarga ningrat/darah biru/kaya raya/status sosial kasta tinggi. Kayak Melly dan Iyan (efek nonton anak jalanan wkwk). Terkadang orang tua secara tidak sengaja menginginkan partner hidup anaknya yang juga satu status, satu kasta. Simpelnya, anak itb rata2 (nggak semua kok) menginginkan suami/istri anak itb lagi, karena agar satu pola pikiran (mungkin sama2 biar ngerasain tersesat di gku barat).

Intinya ada banyak orang tua yg kadang akan menuntut anaknya untuk mendapatkan pasangan hidup yang sesuai kriteria keluarga mereka. Contoh lain jika anak menginginkan kuliah jurusan ini, tapi orang tua menuntut untuk mendapatkan jurusan itu. Tuntutan tuntutan orang tua baik secara sadar atau tidak, kadang menjadi beban psikologi tersendiri bagi sang anak. Mungkin saat menjadi anak dia terlohat bisa menerima , namun ada kasus dimana, pola pengasuhan anak tipe jaksa penuntut ini bisa saja secara tidak sadar ia terapkan saat si anak memiliki buah hati.

Saya tipe manusia yang bercita cita untuk menjadi orang tua yang menjadi sahabat sang anak. Bukan bossy pendikte apalagi penuntut. Penuntut yang baik biar jadi anak sholeh dan beragama sih ga masalah, maksudnya menuntut anak agar disiplin terhadap dunia akhirat. Kalau menuntut sang anak untuk berduniawi saja dan membanggakan kita hanya didunia pandangan manusia saja sih saya tidak mau.

Semoga saya bisa menjadi ibu yang tidak menuntut anaknya untuk ini dan itu, tanpa memberikan jalan mandiri terhadap anak2 saya. Ah dan semoga saya menjadi ibu yang bisa menjaga lidah saya agar tidak menyakiti anak anak saya. Aamiin

Posted from WordPress for Android

8 thoughts on “Keluarga Jaksa Penuntut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s