Fashion & Lingkungan


[Belajar Nulis]  Industri fashion merupakan salah satu industri yang berkembang dengan cepat dan pesat. Hal ini ditunjang dengan beragam media baik elektronik maupun cetak. Industri ini berkembang tak hanya di negara maju tetapi juga negara negara dunia berkembang, seperti Indonesia.

Pengalaman tinggal di negara maju yang memiliki 4 musim, perkembangan industri fashion amat sangat cepat, sesuai dengan pergantian musim. Tentunya hal ini berdampak terhadap lingkungan baik nature maupun sosial budaya. Masyarakat banyak membeli pakaian setiap musim dengan harga murah disertai kualitas yang kadang murah pula. Walaupun banyak brand brand fashion ternama yang juga akan mengganti beberapa model design fashion setiap musim.

Pertumbuhan industri fashion yang pesat mengakibatkan budaya masyarakat yang juga akan mengikuti trend setiap musim. Hal ini tentunya menimbulkan peningkatan ber ton ton pakaian yang tidak terpakai  baik itu kualitas seadanya hingga pakaian dengan kualitas bagus. Berton pakaian bekas tersebut akan berakhir di landfill maupun di recycle, bahkan dibuang ke negara-negara yang mengizinkan dijadikan tempat sampah oleh dunia maju sana. Contohnya, di Bandung ada Cimol di kawasan Gedebage, banyak pakaian-pakaian bekas yang masih layak pakai dengan harga cuma-cuma, asal pintar memilih dan memilah. Kalau Anda beruntung, Anda bisa mendapatkan pakaian mulai dari pakaian tidur hingga pakaian musim dingin dengan brand brand ternama.

*di UK sendiri ada yang namanya Charity Shop atau Community Shop dimana menjual berbagai macam barang second hand dari mulai pakaian hingga peralatan rumah tangga dengan harga yang murmer*

Industri fashion salah satunya mengandalkan industri textile sebagai salah satu bahan baku. Seperti yang kita (atau mungkin yang aware terhadap lingkungan aja? ) tahu, industri textile merupakan industri yang menyumbang polusi terbanyak terhadap lingkungan, seperti mencemari badan air dan tanah. Kasus ini banyak terjadi di negara-negara dimana industri textile berkembang pesat, seperti Indonesia, India, Pakistan, Bangladesh, dan China.

Saat ini bahan baku textile dalam industri fashion tak lagi berasal dari cotton atau kayu, tapi banyak bahan baku sintetis lainnya, dikarenakan demand pasar yang sangat besar terhadap textile. sebagian besar bahan sintetis tentunya tidak begitu ramah terhadap lingkungan apabila menjadi sampah yang bertumpuk di landfill. Hal ini dikarenakan bahan bahan sintetis memerlukan waktu yang cukup lama untuk terurai.

Gerakan gerakan Greeneration, Go Green dan sebagainya telah banyak digalakkan diberbagai belahan bumi untuk menyelamatkan lingkungan kita. Pesatnya perkembangan fashion yang menimbulkan permasalahan lingkungan telah membuka mata manusia untuk membuat fashion dari beragam pakaian bekas (recycle). Contohnya membuat baju bayi dari pakaian dewasa yang sudah tidak terpakai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s